-->
aOGEZI57OQn5yP1hBMFB2o83mW9XQR0xpYfzSrtQ

Jalan-Jalan ke Pantai Nubi Lembata yang Mirip Tanah Lot Bali.

Hari itu hari libur. Sayang bila hanya berdiam diri di rumah. Tanpa rencana yang matang kami memutuskan untuk jalan-jalan menggunakan sepeda motor. Roni membonceng Ety dan Saya bersama Bertin. 

Sekali lagi tujuan kami ke Lamalera dan pastinya akan melewati pantai Nubi. Mengapa harus ke Lamalera Lagi ? 

Dia yang saya bonceng ternyata sangat penasaran dengan isi artikel sebelumya tentang Pantai Nubi. Dia ingin sekali berada disana menyaksikan keindahan pantai yang saya sebut mirip tanah lot Bali itu. Juga belum pernah sampai ke kampung nelayan Lamalera yang sudah dikenal luas di dalam maupun luar negeri. 

Pantai Nubi Lembata yang Mirip Tanah Lot Bali.
Foto : Bertin Karangora
Kami keluar dari Lolong saat arlojiku menunjuk angka 09.45. Lintas selatan Nagawutung dan Wulandoni menyuguhkan perjalanan yang menantang, apalagi disaat musim hujan begini. Keluar dari desa Lolong, kami dimanjakan dengan jalan yang baru selesai diaspal. Sepeda motor melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Hanya beberapa menit, kami memasuki kampug Tewaowutung. 

Mulai dari sini roda kendaraan dipaksa berputar di atas batu dan kerikil lepas yang terserak di pinggir dan tengah jalan. Air hujan yang menggenang membentuk kubangan menganga di jalan dan tak bisa dihindar laju sepeda motor. 

Roda kendaraan mau tak mau harus cebur kedalamnya layaknya seekor sapi membajak sawah. Sesekali pinggang saya dicubit Bertin karena ban kendaraan yang tergelincir nyaris jatuh. Saya membalasnya, “tenang, anda sedang dibonceng seorang petualangan amatir yang belajar kemudikan sepeda motor di jalan yang lebih parah dari ini”. hahahaha 

Saya menengok ke kaca spion melihatnya tesenyum lalu secepat kilat merekatkan lagi lingkar tangannya di perutku. 

Kami menikmati perjalanan itu walau di atas kepala sedang mengintai rinai hujan yang bisa saja menjadi lebat. Gelegar suara guntur yang menembus helm tak diperdulikan. Asal kita sampai ke Pantai Nubi, sahut Bertin yang tanpa sepengetahuanku sedang merekam senyumku di kaca spion. Sesekali juga merekam Roni dan Ety yang berada di belakang.

Sepeda motor kami melaju dengan kecepatan 20 kilometer per jam beriringan melewati beberapa kampung yang langsung menghadap laut sawu. Kampung-kampung itu adalah, Tadalakar, Penikene, Idalolong, Lamanepa, Lewopenutung dan terakhirnya kampung Tirer sebelum tiba di Pantai Nubi. 

Jam sebelas lebih lima belas menit, kami tiba di pantai Nubi. Kali ini air laut begitu bersahabat sehinga dapat menyeberang ke bongkahan karang yang terpisah sekitar 30 Meter dari pantai. Ety, saudariku yang ternyata lebih dahulu pernah sampai ke tempat ini, meyakinkan kami untuk melangkah kesana. Tempat ini memang mistis, tapi keberadaan kita bukan untuk mengusik atau merusak. Katanya sembari loncat dari batu demi batu dan lebih dahulu sampai disana. 
Kesempatan ini dimanfaatkan baik oleh Bertin untuk merekam debur ombak. Sesekali memangilku untuk membidik seorang nelayan yang sedang mancing di dekat tanjung itu dengan kamera DSLR. Saya bisa menebak dari cara dia hilir mudik dengan sampan di ujung tanjung sementara sesekali menarik senar pancingan. Sepertinya ia sedang menerapkan teknik mancing terapung. 

Moment berkunjung ke tempat ini bersama Bertin mesti diabadikan dengan kamera DSLR. Maklum kamera smartphone saya tidak baik buat foto selfi atau swa foto. Hahahaha. Bagaimana caranya, sementra Ety dan Roni juga sibuk mengambil gambar? 

Saya ingat kamera canon yang saya pegang ini punya fitur remote live shoot yang bisa dihubungkan dengan smartphone . Tak menunggu waktu lama saya menghubungkan keduanya dan mulai mengambil gambar dengan tombol shoot dari smartphone. Kami berdua menikmati moment swa foto itu. Ikut bergabung juga Roni dan Ety setelah mereka puas mengambil gambar dengan kameranya masing-masing.
Swa Foto di Pantai Nubi dengan Kamera Canon DSLR
Foto : Wandy Punang
Setelah puas mengambil gambar via smartphone dan Kamera DSLR, bekal yang dibawa Bertin pun dikeluarkan. "Roti ini sederhana, tapi saat dinikmati di tempat baru ini, sungguh menjadi roti yang istimewa", katanya sambil menyodorkan roti berisi selai kacang hijau. 

“Ayo kita berangkat”. Saya lebih dulu mengajak rombongan pelancong lokal ini untuk melanjutkan perjalanan ke Lamalera. "Hujan akan segera tiba", sahut Ety yang ternyata menyetujui ajakanku. Saya melangkah lebih dahulu setelah roti terakhir mulai saya kunyah. 

Kami melangkah kembali ke kendaraan tanpa meninggalkan sedikitpun sampah disana. 

Mesin sepeda motor ku nyalakan. Sayup terdengar bisikan di telinga kanan, “terima kasih Bro, sudah bawa saya ke tempat ini. Semua yang ada di artikel itu benar adanya”. Saya membalasnya dengan sebuah ciuman di pipi kirinya sambil berbisik “ seperti aku yang mencintaimu dengan tulus tanpa kebohongan, demikian pula aku menjalani hobi blogging ini dengan kejujuran”. 

Bersambung .... 

Catatatan : Selengkapnya tentang pantai Nubi dan aksesnya ada dalam artikel berjudul “ Mirip Tanah Lot Bali, Pantai Ini Bisa Jadi Tujan Petualanganmu Di Lembata”
Related Posts
Wandy Punang
Senang Belajar Otodidak

Related Posts

Posting Komentar