-->
aOGEZI57OQn5yP1hBMFB2o83mW9XQR0xpYfzSrtQ

Obrolan Inspiratif 3 orang Sarjana, Calon Sarjana Wajib Baca!

Seorang calon sarjana pasti mendambakan pekerjaan yang baik setelah lulus. Bukan hanya dunia kerja, tetapi juga kegiatan wirausaha yang turut membantu orang yang kesusahan. 

Sarjana yang baik dapat membantu orang lain dengan tidak terlalu membebani kantong pribadi, atau bahkan kantong orang lain. Singkat cerita, kita mencari uang untuk kebetuhan keluarga, tetapi juga turut meringankan beban masyarakat. 

Nah, lalu apa yang mesti dilakukan pada saat sedang kuliah, sehinga pada saat lulus nanti bisa menemukan pekerjaan dan usaha yang didambakan saat di bangku kampus? 

Cerita inspiratif berikut ini dapat menjawabnya. Check this out 

Ada 3 orang sarjana (sebut saja A, B dan C) terlibat obrolan di sebuah kios milik Si B. 


Sarjana A : Woe B, kenapa Kamu sudah jadi sarjana tetapi malah jaga kios? Kamu biarkan saja ijasah nganggur percuma? Kamu kuliah setengah mati, habiskan banyak biaya, terakhir Kamu jaga kios? Ah mendingan itu hari Kamu tidak usa kuliah. 

Sarjana B : Aduh kawan, Ini juga kan kerja. Bisa menghasilkan, Bisa bantu orang tua kan? Kalau orang butuhkan sesuatu, itu kan saya bisa penuhi melalui kios ini. Mereka datang belanja, kebutuhannya terpenuhi. 

Sarjana A. : Ia betul, Tapi itu kan bisa dilakukan oleh orang yang bukan sarjana. Kawan kuliah di FKIP, sarjana pendidikan, sarjana guru. Eh malah jaga kios. Kenapa tidak lamar mengajar di sekolah? Kan sarjanamu bisa berguna untuk majukan pendidikan

Sarjana B : Mari kawan, lihat sesuatu di samping kios saya ini. 
Sarjana A : Oh, jadi kawan buat Taman baca di sini ya? 



Sarjana B : Yah seperti inilah saya jadi sarjana pendidikan menurut yang saya ingin lakukan untuk orang lain. Kios dan taman baca. Pemasukan dari kios per hari sekitar 500ribu. Besoknya saya pakai belanja 400ribu. Lima puluh ribu saya pakai kebutuhan. Lima puluh ribu saya simpan. Tiap akhir minggu saya setor ke rekening bank 350.000. Tiap akhir bulan saya tabung ke bank 1.200.000. Sisa 200.000 saya pakai untuk datangkan lagi buku bacaan untuk anak-anak. Jadi, akhir atau awal bulan, para pegawai, termasudahk PNS tunggu gaji, yang pasti sudah kena potongan sana sini, saya malah pergi simpan uang. Begitulah kawan. Lalu Kamu? 

Sarjana A : Aduh kawan, biar bagaimanapun saya tidak mau ijasah saya ini nganggur. Saya masih berusaha adu nasib lamar ke beberapa kantor. Sekarang saya tunggu saja kalau ada orang buka lamaran, saya adu nasib kembali. 

Sarjana C : (masuk dalam obrolan dan langsung bertanya ke sarjana A), “Terus kamu makan minum dan penuhi kebutuhan sehar-hari pakai uang dari mana?” 

Sarjana A : Ya untuk sementara tinggal bersama dengan ortu dulu kan kawan, sambil ojek buat beli rokok. Kamu baik, begitu wisuda langsung dapat kerja. Itu ceriteranya bagaimana sehingga Kamu bisa nasib baik begitu? Pasti ada orang dalam kan? Memang, kalau ada orang dalam maka bisa begitu. Kalau kami yang tidak ada orang dalam, yah mau bagaimana lagi? 

Sarjana C : Wah salah besar kawan. Saya justru malu kalau andalkan orang dalam. Nanti malah jadi bahan omongan dan kita kerja seperti sedang berutang budi pada orang lain. salah sedikit, kita punya harga diri langsung diinjak-injak. Kawan Kamu ingat kalau waku kita semester 4, Dosen minta kita bahkan sampai paksa kita untuk ikut kegiatannya di desa-desa , tentang pengabdian masyarakat itu ? Saya,, biar tidak dapatkan uang tetapi mau ikut dengan harapan mendapat pengalaman. Kamu lain pada tidak mau kan? Bilang gengsilah kalau harus kerja ini itu, bilang kamu sibuk belajarlah, bilang kamu tidak mau repot ini itu karena orang tua masih sanggup penuhi kebutuhanmu ini dan itu. Karenanya kamu acuh saja dengan ajakan Dosen itu. Kalau saya, justru terlibat kegiatan semacam itu, saya makin kenal banyak orang, makin pelajari dan tau peranan apa yang harus kita buat untuk orang lain. Saya memang tertantang untuk harus buat ini itu sesuai prosedur dalam rencana kegiatannya Dosen tadi. Saya berjuang untuk bisa lakukan. Hasilnya, semua orang melihat saya bisa, saya punya potensi. Ya, mulai semester 5 saya sudah terlibat banyak kegiatan kemasyarakatan. Maka saat jadi sarjana, orang datang menjemput saya untuk bekerja. Mereka butuhkan saya. Oh ya, lalu dimana temanmu si D? dia sudah kerja di mana sekarang? 

Sarjana A : Aduh dia sekarang gembel. Dulu dia berbicara tinggi bahwa setelah wisuda dia langsung masuk tenaga honor di kantor bupati karena bapanya dekat dengan Bupati. Sekarang, bapanya malah suruh dia harus berusaha sendiri cari kerja dan tidak andalkan nama bapaknya, karena bapaknya tidak mau korupsi, kolusi dan nepotisme. Orang tua model apa begitu? Tidak rugi ya kalau sudah keluarkan banyak uang untuk biayai anak tetapi setelah itu biarkan anaknya gembel begitu? 

Sarjana B : Oh ya, pernah saya ketemu bapaknya di perkantoranan dan saya tanya tentang teman kita D itu. Bapanya bilang, kalau sudah sarjana, harus pake otak sarjana itu untuk punya hidup. Bukan masih bergantung pada orang tua. Aduh bapanya punya prinsip agak lain. Bapanya bilang bahwa hubungan keuangan putus pada saat selesai ujian skripsi dan diumumkan lulus jadi sarjana. 

Sarjana A : Pantas,.. saat wisuda, dia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak buat acara biar kecil saja atau apa, karena dia bilang tidak ada uang. Bilangnya orang tua sudah tidak kirim uang lagi pada saat ujian skripsi. Aduh orang tua model apa macam begitu? Kalau saya punya bapak begitu, saya sudah berkelahi dengan dia. 

Sarjana C : Pernah juga saya bertemu bapanya di atas kapal. Bapanya minta kalau ada kegiatan kemasyarakatan,tolong ajak dengan si D supaya ia bisa ada pengalaman. Kalau ada rejeki dapat uang kan dia bisa beli pulsa sendiri atau beli bensin sendiri untuk isi motor. Bapanya mengeluh karena tiap hari dia minta uang beli pulsa, beli bensin. Bapanya bilang, kalau suda dikasi motor, kenapa tidak berpikir untuk motor itu bisa membiayai dirinya sendiri? Memang bapanya punya prinsip agak lain. 

Sarjana B: Oh ya, saya juga kaget dengan prinsip dari Ibunya si E. Waktu Ibunya datang belanja di sini, saya bertanya tentang teman kita E, sudah dapat kerja di mana atau sedang kerja apa. Aduh Ibunya bilang sekarang si E merajuk dengan bapaknya dan tidak mau cari kerja. Soalnya dia minta bapanya bantu cari sekolah atau antar dia ke sekolah-sekolah untuk cari tempat mengajar tetapi Bapaknya suruh dia harus pergi sendiri, omong sendiri, lobi sendiri. pake otak sarjana untuk urus cari kerja sendiri. Tapi dia bilang dia malu dan tidak bisa omong. Maklum anak perempuan. 

Sarjana A : Aduh.. itu lagi. Ada orang tua model apa begitu? Mereka tidak rasa rugi sudah buang banyak uang untuk biaya kuliah? 

Sarjana B : Saya waktu belanja di toko beberapa hari lalu, itu Ako (Pengusaha Cina) bertanya kepada Saya, sekarang sudah kerja di mana, saya jawab bisnis mandiri begini saja. Lalu Ako mulai cerita panjang tentang mereka. Menurut penuturannya, sewaktu masih SMP, mereka sudah tercatat sebagai karyawan dalam rumah. Mereka digaji seperti karyawan toko yang lain. Jadi, mereka sudah harus bekerja sambil sekolah, meskipun kerja dalam rumah sendiri. Itu makannya sangat jarang kita lihat anak-anak cina keluyuran setelah jam sekolah, bukan seperti kita yang miskin melarat begini. Padahal mereka ganti baju seragam dan langsung paraf daftar hadir kerja, lalu mulai terlibat kerja dengan karyawan toko yang lain. 

Sarjana C : Yah begitulah tuntutan jadi sarjana sekarang. Waktu kita masih kuliah, masih jadi mahasiswa, kita sudah berkoar-koar, demo persalahkan orang ini dan itu. Sekarang sudah jadi sarjana, orang akan balik bertanya kita, "Pak sarjana, bisa buat apa ? " 


Setelah mengikuti obrolan ini, Segera Rencanakan dan Lakukan Langkah awalmu agar tidak bimbang saat engkau lulus nanti. Semoga obrolani ini mampu menjadi inspirasi kepada kawan-kawan yang masih berjuang di bangku pendidikan. Salam Sukses Kawan … 
Related Posts
Wandy Punang
Senang Belajar Otodidak

Related Posts

Post a Comment